Ketika saya dan suami pergi ke Bandung Indah Plaza untuk menonton Laskar Pelangi, itu adalah pertama kali kita jalan keluar berdua. Di perjalanan, kita masih canggung untuk duduk bersebelahan di angkot. Rasanya semua mata penumpang tertuju pada kita. Saya sengaja memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manis tangan sebelah kiri, agar penumpang disitu tau bahwa kami sudah resmi menikah.
Kami sama-sama diam, seperti orang yang saling tak kenal, hanya ketika membayar angkotlah saya bertanya `Berapa bayarnya A?` Pada saat itu saya berusaha untuk berperilaku seperti istri yang memegang dan mengontrol uang.
`Mungkin 1500 berdua`, kata suami tanpa menoleh wajah.
Saya keluarkan uang dari dompet dan saya berikan padanya.
Ketika menyeberang, suami berusaha untuk melindungi saya dari mobil yang sedang berjalan, tapi dengan santainya saya berjalan mendahului suami. Ya…baik saya dan suami, saat itu masih canggung berjalan berdua di tengah keramaian.
Hari itu memang masih termasuk hari libur lebaran, sehingga tak aneh BIP ramai dengan pengunjung. Begitu juga dengan bioskop BIP. Sesampai di sana, antrian sudah panjang. Dan kami pun ikut mengantri di tengah-tengah para ABG tersebut. Di tengah antrian, kami ber-flash back, mengingat masa ketika SMA dan membandingkannya dengan remaja sekarang. Kebetulan kami sama-sama pernah sekolah di Bandung, meskipun dengan SMA dan tahun. yang berbeda . Sesekali suami bercerita lucu dan mentertawai kita yang sudah tidakABG lagi.
Setelah mendapatkan tiket, kami keluar dari bioskop itu. Menunggu waktu film diputar tiba, kami berjalan-jalan di dalam BIP, sekedar windows shoping. Saya melihat banyak pasangan muda mudi yang bergandengan tangan.
Boleh gak tangannya digandeng ?` tanya saya memberanikan diri.
`Heheh kok pake nanya ? Saya malah senang kalau digandeng` jawabnya sambil tersenyum.Itu adalah pertama kali saya menggandeng tangannya, rasanya wahhh tak terbayangkan…..
Tiba-tiba di depan kami berdiri seorang remaja berjilbab bersama teman-temannya. Mungkin mereka juga ingin menonton Laskar Pelangi. Remaja berjilbab itu melirik ke arah kita. Saya segera melepaskan gandengan tangan saya.
`Kenapa ? kok dilepas ?` tanya suami yang menyadari tangan saya seketika tak lagi menggantung di tangannya.
`Gak enak ah, gadis itu melirik ke kita. Nanti dia mikir yang macam-macam, kok akhwat gandeng tangan dengan ikhwan.`
`Lho biarin aja…lihatin aja cincin nya, kita kan udah syah` Hmm pikirannya sama dengan saya sewaktu di angkot.
`Jadi ingat dulu deh A. Saya suka merasa gimanaaa gitu kalau melihat ada akhwat dan ikhwan yang saling bergandeng tangan. Bukan suudzhan sih, saya yakin mereka begitu karena sudah menikah. Tapi perasaan saya waktu itu, mbok ya jangan begitu-begitu banget, menunjukkan di muka umum. Iya lah yang sudah menikah, pikir saya waktu itu…`
`Oh jealous ya ??? Sini atuh` Tiba-tiba tangan saya diambilnya, dan sengaja dia cangklongkan ke tangannya.
`Biar mereka juga cemburu melihat kita, seperti perasaan kamu waktu itu. Kalau gitu kan mereka juga pasti ingin cepat menikah, daripada pacaran yang gak bener`
Saya tersenyum sambil tambah melekatkan tangan saya di tangannya. Kita seperti ABG yang baru merasakan jatuh cinta. Bahkan kita ikut duduk ngantri bersama mereka di depan cinema.
Hihihi.. cinta memang gak lihat umur…gak ngerasa kalau kita sudah kepala tiga.